Categories
Media Coverage News

Kabut Asap di Maratua Jazz

Perhelatan jazz dibayangi kabut asap. Itulah Maratua Jazz & Dive Fiesta di Maratua, salah satu pulau di antara 31 pulau di Kepulauan Derawan, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, 11-12 September. Kabut asap tak menghalangi keindahan terumbu karang dunia, dengan panorama bawah air yang indah.

Ritme alam

Kabut asap yang melanda Kalimantan Timur juga tidak menghalangi para musisi menempuh sehari perjalanan di antara asap yang menyaput keindahan Maratua, salah satu pulau kecil terluar di Indonesia yang berpenghuni. Tak heran Idang Rasjidi, Donny Suhendra, hingga Syaharani masih bisa tertawa lepas meski menghabiskan waktu seharian di perjalanan. Sebagian rombongan, termasuk mereka, yang berangkat dari Jakarta mendarat di Balikpapan, lalu menempuh perjalanan darat. Serunya menikmati perjalanan dan keindahan Maratua itulah yang mereka cari.

”Jika sekadar bermain musik, ya ngapain saya dan teman-teman ke Maratua. Serunya itu, ya juga tentang perjalanan. Kita harus mengikuti ritme alam. Dibikin santai saja,” ujar Idang.

Itu pula yang dirasakan Syaharani. Menumpang perahu motor cepat (speeboat) mengarungi lautan selama empat jam, sempat membuat jantungnya dag-dig-dug. Namun, setelah pentas, Syaharani, juga para musisi lain, melanjutkan bertualang ke penjuru pulau. Agenda mencebur ke laut, tak ketinggalan….

Inilah imbas kabut asap yang sejak awal September mengganggu jadwal penerbangan, sampai-sampai Bandar Udara Kalimarau, Berau, ditutup sementara. Dampaknya, sebagian rombongan musisi harus 15 jam naik mobil. Itu pun ditambah menumpang perahu motor cepat tiga jam menuju Maratua. Sebagian musisi lain berangkat sehari kemudian, tetapi juga ”dipaksa” terbang ke Tarakan dan disambung naik perahu motor cepat.

Etalase terdepan

Perhelatan di Maratua merupakan pemandangan baru di pulau tersebut. Keramaian terlihat di sebuah dermaga kecil. Satu demi satu perahu kayu merapat, menurunkan puluhan warga Teluk Alulu, desa di Maratua yang paling terpencil. Mereka ingin menonton keramaian musik dari Jakarta itu. Maklum, hanya pentas organ tunggal yang pernah mereka saksikan, saat ada hajatan.

Jarang sekali pentas musik skala ”serius” di Maratua, pulau yang pasokan listriknya saja terbatas. Sekitar 700 rumah di sana hanya dialiri listrik berdaya 450 watt dari pembangkit listrik tenaga surya. Genset pun jadi pemandangan biasa di hampir tiap rumah. Karena itu pula, genset berdaya 80 KVA ikut bergemuruh di belakang panggung untuk mendentumkan suara, pencahayaan, hingga keperluan multimedia. Termasuk dua layar besar yang dipasang di dekat panggung dan di tepi jalan utama pulau tersebut.

Idang Rasjidi, bersama Iwan Wiradz, Shaku Rasjidi, Andam, Christopher, Ricad Hutapea, dan Tata, membawakan musik, salah satunya adalah ”Maratua” komposisi baru yang sengaja dibikin Idang bagi keindahan Maratua. Kemudian, Indro Hardjodikoro bersama Souksma tampil bersama M Iqbal, Andi Gomez, membawakan lagu daerah, seperti ”Yale-yale”, ”O Ina Ni Keke”, sampai ”Ondel-ondel”. Syaharani and Queenfireworks, yang digawangi Syaharani, Donny Suhendra, Andi Gomez, Subekti, dan Eddy Syakroni, memainkan lagu-lagu dari album Morning Coffee.

Tampil pula Swing Boss, Youth of Kalimantan, grup asal Samarinda dengan kostum pakaian adat Dayak. Bupati Berau Makmur HAPK, yang tengah asyik menonton, didaulat tampil dan dengan senang hati menyanyikan ”Sio Mama”.

Terluar, terdepan

Perhelatan dirancang sebagai sarana untuk memperkenalkan Maratua sebagai kawasan wisata. Agus Setiawan Basuni, selaku Pengarah Festival (Festival Director) Maratua Jazz & Dive Fiesta mengatakan, perhelatan ini mempertemukan komunitas penyelam dan penikmat jazz.

Membawa jazz ke Maratua diakuinya sebagai tantangan. Dukungan tanggung jawab sosial perusahaan ikut mengalir demi terselenggaranya ajang tersebut, seperti dilakukan Berau Coal. ”Maratua harus terus dipromosikan sebagai andalan wisata bahari,” ujar Arif Hadianto, PR Manager Berau Coal, yang juga penyelam.

Maratua adalah pulau terluar di gugusan Kepulauan Derawan, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Pesona alam bawah air Derawan—dengan pulau utama Derawan, Sangalaki, Kakaban, dan Maratua, menjadi potensi wisata Maratua.

Pulau karang berpasir seluas 385 kilometer persegi ini hanya berpenduduk 3.500 jiwa, yang mayoritas berprofesi sebagai nelayan. Sebagian penduduk yang lain membuka penginapan untuk wisatawan. Ada yang buka warung dan menjadi pengemudi perahu motor cepat.

Maratua mungkin masih kalah nama dibandingkan dengan Derawan, Sangalaki, ataupun Kakaban yang lebih dikenal wisatawan. Karena lokasinya paling jauh, Maratua sering terlewatkan dalam agenda berwisata, kecuali mereka yang benar-benar ingin menyelam di perairan pulau itu. Di sana terhampar banyak titik penyelaman yang merupakan ”surga” bagi para penyelam. Pari manta, barakuda, penyu, dan hamparan terumbu karang nan indah tersaji komplet.

Namun, menuju Maratua, dalam kondisi normal pun, maksudnya tanpa kabut asap, butuh perjuangan. Dari Balikpapan, perjalanan ditempuh paling cepat dengan pesawat satu jam menuju Tanjung Redeb, Berau. Perjalanan disambung mobil carteran selama tiga jam menuju Tanjung Batu. Sesampai di Tanjung Batu, kita perlu naik perahu motor cepat selama 1,5 jam menuju Maratua. Andai kata naik perahu motor cepat dari Tanjung Redeb dan langsung ke Maratua, durasinya bisa tiga jam lebih.

Laut lepas Selat Makassar yang mengirim gelombang tinggi yang kencang memang tak bisa dihadang. Pengemudi perahu motor cepat ataupun kapal kayu bermesin yang sudah berpengalaman pun harus berkompromi dengan alam. Salah satunya adalah tak berlayar saat menjelang sore.

Nelayan ataupun motoris kapal juga menghindari beranjak dari Pulau Maratua jika hari terlalu siang. Saat masih pasang inilah, air laut cukup dalam menutup hamparan karang runcing. ”Cepat-cepat, keburu surut kita enggak bisa keluar pulau,” seru seorang motoris.

Bandara perintis saat ini tengah dibangun untuk mempermudah wisatawan menjangkau Maratua, Ada sejumlah obyek lain, seperti Gua Sukur, gua vertikal dengan keindahan stalagmit dan stalaktit. Ada juga Danau Tanah Bamban, danau ”purba” air payau habitat ubur-ubur yang tak menyengat.

Maratua tidak hanya pulau wisata, tetapi juga mempunyai posisi strategis menyangkut kedaulatan negara. Pada November tahun lalu, hampir 700 ”manusia perahu” asal Malaysia dan Filipina secara bergelombang memasuki wilayah Kepulauan Derawan. Selama beberapa saat, mereka tak terdeteksi. Mereka akhirnya bisa dipulangkan.

Idang menyebut Maratua dan Filipina sangat dekat. ”Bayangkan, dari Maratua mengarungi laut 3,5 jam sudah sampai ke Filipina. Jangan lagi sebut Maratua pulau terluar, melainkan pulau terdepan. Maratua itu etalase, dan karena itu, harus bagus,” ujar Idang. (PRA)

Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 11 Oktober 2015, di halaman 29 dengan judul “Kabut Asap di Maratua Jazz”. Tayang di https://muda.kompas.id/2015/10/13/kabut-asap-di-maratua-jazz/

Categories
Media Coverage News

Cerita KEHATI di Maratua

Maratua menorehkan sejarah pertama jazz bergema di pulau terluar Indonesia ini. Pulau yang namanya makin moncer akan keindahan alam bawah lautnya, kini menambah tenarnya dengan festival musik jazz. “Maratua Jazz adalah pentas Jazz di pulau terdepan pertama di Indonesia dan kegiatan jazz & dive pertama di dunia”, ujar Ketua Panitia Pelaksana Maratua Jazz & Dive Fiesta, Agus Basuni ketika membuka acara, Sabtu 11 September 2015.

Tidak tanggung-tanggung, panitia menghadirkan musisi jazz papan atas Indonesia, seperti Idang Rasyidi, Syaharani, Donny Suhendra, Indro Hardjodikoro, dan beberapa musisi lokal. Penonton dari beragam etnis berkumpul ikut memeriahkan perhelatan akbar berskala internasional itu.

Musik Jazz memang bukan musik yang termasuk dalam daftar musik di arus utama. Pecinta musik jazz cenderung segmented. Di kota-kota besar saja, musik jazz hanya digemari sebagian kalangan masyarkat saja, apalagi di kampong kecil, di pulau terluar Indonesia. Masyarakat Maratua yang kebanyakan adalah nelayan dan pemandu wisata selam di daerah yang katanya memiliki keindahan terumbu karang dan keragaman jenis ikan-ikannya itu menganggap jazz adalah genre musik yang baru dan asing. Saat acara akan dimulai, banyak yang menanyakan tentang apa itu jazz.

Kondisi tersebut disadari oleh Syaharani.  Di atas panggung, beberapa kali dia menyampaikan bahwa lagu-lagu yang dia nyanyikan adalah lagu baru buat masyarakat Maratua. Padahal bagi mereka yang paham musik jazz,  lagu-lagu yang dendangkannya masuk dalam kategori lagu-lagu lawas.

Meskipun demikian, ditengah keasingan masyarakat Maratua terhadap Jazz, Idang Rasyidi menyampaikan bahwa musik jazz adalah soal mendengar. “Kita diciptakan Allah dengan dua telinga dan satu mulut, artinya porsi mendengar harus lebih banyak ketimbang berbicara,” ujarnya. Pesan tersebut seolah ingin mensugesti penonton supaya mendengarkan dan menikmati saja sajian musik yang mereka tampilkan, tanpa harus mempertanyakannya. Idang dan rekan-rekan terus berupaya melibatkan para penonton dengan menyanyikan lagu-lagu nasional, seperti Indonesia Tanah Air Beta, Desaku yang ku cinta dan  yel-yel dengan nada-nada tertentu.

Pentas jazz yang dilaksanakan di pinggir pantai Maratua, dengan suasana khas ala kampung (penonton ada yang berdiri, duduk beralaskan tikar dan beberapa pedagang kecil) ini, sangat menghibur warga kampung sana. Pulau yang terdiri dari kampung Bohe Silian, Payung-Payung dan Bohe Kukut itu, membuat warganya berbondong-bondong menyaksikan pertunjukan jazz ini. Tidak mengenal usia, mulai dari anak-anak, ibu-ibu, bapak-bapak dan bahkan nenek-nenek dan kakek-kakek. Karena tidak pernah ada pentas musik seperti ini sebelumnya.

Walaupun mereka sebelumnya tidak kenal musik jazz, tetapi ternyata mereka cukup menikmati juga. Beberapa penonton, termasuk ibu-ibu terlihat manggut-manggut mengikuti irama musik. Dakwah musik jazz Idang cs dengan sesekali menyisipkan pesan-pesan pelestarian lingkungan, nampaknya cukup berhasil mengambil hati warga kampung Maratua. Mereka menantikan jazz masuk kampung berikutnya. ahs

Artikel ini tayang di http://kehati.or.id/waktu-jazz-bergema-di-maratua-197/

Categories
Media Coverage News

Pergelaran Jazz Pertama di Etalase Indonesia, 18 Jam demi Maratua

PROKAL.CO, v>

MARATUA Jazz and Dive Fiesta (MJDF) sukses digelar pada 11–12 September lalu. Pergelaran musik jazz pertama di etalase Indonesia tersebut menyedot tiga ribu penonton dari berbagai kota, bahkan luar negeri.

Di balik suksesnya pergelaran musik tersebut, ada cerita menarik dari artis pengisi acara. Mereka mesti rela menempuh jalan darat Balikpapan-Berau untuk ke Maratua. Sebenarnya, mereka direncanakan terbang dari Balikpapan menuju Berau. Namun, apa daya. Kabut asap akibat kebakaran hutan membuat Bandara Kalimarau, Berau ditutup. Dua artis yang mesti menempuh jalan darat adalah Idang Rasjidi dan penyanyi jazz Syaharani.

Idang mengatakan, seharusnya mereka sampai di Maratua pada Rabu (9/9) sore pekan lalu. “Namun, karena kabut kami baru sampai tanggal 11,” ujarnya saat berbincang dengan Kaltim Post, beberapa jam setelah sampai di Pulau Maratua. Pianis jazz gaek tersebut mengatakan, perjalanan darat selama 18 jam itu membuatnya menemukan jawaban tanpa harus bertanya. Ia jadi tahu penyebab kabut asap. Ia melihat sendiri kebakaran hutan selama perjalanan. Idang dan Syaharani bersama kru mereka menumpang enam minibus dari Balikpapan.

Sampai di Pulau Maratua, Idang dan Syaharani sepakat perjalanan darat 18 jam ditambah empat jam jalur air, terbayar dengan keindahan alam Maratua. Selepas check sound di Kampung Bohe Bukut, Maratua yang menjadi lokasi acara, Syaharani langsung mengelilingi Pulau Maratua. “Maklum, kejar waktu. Seharusnya kami datang dua hari sebelum acara karena force majeure seperti ini harus memanfaatkan waktu sebaik mungkin,” terangnya. Selain keliling pulau, Syaharani menyempatkan snorkeling.

SAMA-SAMA PENGALAMAN PERTAMA

Syaharani mengatakan, penampilannya di MJDF Sabtu (12/9) lalu adalah pengalaman pertamanya di Maratua. “Tempat ini adalah pengalaman baru buat saya. Kalian kasih tempat ke saya, saya akan berikan penampilan saya,” ujar Syaharani, yang naik pentas dalam formasi band Syaharani and Queenfireworks (ESQI:EF), sebelum memutus ucapannya itu dengan lagu Selalu Ada Cinta.

Syaharani yang mengenakan kostum serbaputih, menghibur para penonton bersama Donny Suhendra (gitar), Andy Gomez (keyboard), Bekti Sudiro (bas), dan Eddy Syakroni (drum). ESQI:EF berhasil membuat penonton lokal dan dari luar Maratua bergoyang. Warga lokal yang notabene belum pernah mendengar musik jazz awalnya malu-malu bergoyang. “Tapi, lama-lama mendengar asyik juga untuk bergoyang,” ucap Delly, warga Desa Bohe Bukut. Delly mengatakan, pengalaman pertama warga lokal disuguhi musik jazz bisa membuka mata warga.

Selain ESQI:EF, warga terhipnotis permainan jazz dengan sentuhan etnik band asal Samarinda, YK Samarinda. Grup yang terdiri dari Yusuf (vokal dan gitar), Iyin (keyboard), King (bas), dan Iqbal (drum) membawakan lima lagu, yaitu Song for Hudoq, Orang Utan, 3G, Paris Barantai, dan Sungai Mahakam. Yusuf senang permainan mereka bisa dinikmati warga Maratua. “Mungkin musik kami cukup familier di telinga mereka,” ujarnya. Yusuf berharap MJDF kembali digelar tahun depan. (*/fch/bby/k9)

Artikel ini tayang di http://kaltim.prokal.co/read/news/243804-pergelaran-jazz-pertama-di-etalase-indonesia-18-jam-demi-maratua

Categories
Media Coverage News

Syaharani-Idang Rasjidi ‘Sihir’ Maratua

PROKAL.CO,
MARATUA – Maratua Jazz and Dive Fiesta 2015 berlangsung meriah. Bintang jazz kenamaan Indonesia turut meramaikan ajang yang baru kali pertama ini digelar.
Agenda yang masuk dalam rangkaian hari jadi Kabupaten Berau dan HUT Kota Tanjung Redeb itu digelar di Pulau Maratua, 11-12 September. Bintang utama pada event kali ini adalah Syaharani dan Idang Rasjidi.
Makmur HAPK, Bupati Berau yang membuka agenda ini, Jumat (11/9) malam mengungkapkan rasa syukurnya atas terselenggaranya kegiatan ini. Baginya, mengenalkan potensi wisata di Maratua bisa dengan berbagai kegiatan. Salah satunya lewat musik jazz.
“Saya berharap ajang seperti ini bisa meningkatkan ketenaran Pulau Maratua. Apalagi pulau ini adalah beranda Indonesia. Sudah sewajarnya kita melakukan kegiatan yang lebih kreatif untuk bisa menarik minat wisatawan,” ujarnya.
Makmur yang pada 15 September nanti akan meletakkan jabatannya sebagai kepala daerah, menginginkan kegiatan ini bisa digelar di masa yang akan datang. “Siapapun yang nantinya meneruskan tugas sebagai kepala daerah, saya harap bisa menggelar kegiatan positif yang mendukung promosi daerah,” ungkapnya.
Seusai pembukaan, Syaharani yang menyanyikan Indonesia Pusaka ciptaan Ismail Marzuki, berhasil memukau penonton. Ajakannya untuk besama-sama menyanyikan lagu tersebut, disambut dengan koor dari penonton.
Hal serupa juga ditunjukkan Idang Rasjidi. Saat di atas panggung, musisi senior tersebut bahkan mengajak penonton untuk beradu kemampuan menirukan nada yang keluar dari mulutnya. Kepada Berau Post, Idang mengungkapkan jika dirinya sudah mempersiapkan lagu khusus bagi warga Maratua.
“Itu sebagai ungkapan rasa terima kasih saya kepada warga Maratua yang telah bertahun-tahun menjaga keindahan alam. Saya berharap potensi yang dimiliki Maratua bisa memberikan banyak manfaat kepada masyarakat,” ujarnya.
“Semoga mereka tetap bisa menjaga kelestarian alam. Dan lewat musik, saya dan juga teman-teman akan berusaha memperkenalkan Maratua ke kancah yang lebih luas,” tuturnya. (rjp/udi)

Artikel ini tayang di http://berau.prokal.co/read/news/38132-syaharani-idang-rasjidi-sihir-maratua

Categories
Media Coverage News

Di Pulau Maratua, Syaharani dan Warga Sama-sama Dapat Pengalaman Pertama

MARATUA, KOMPAS.com — Vokalis jazz Syaharani mengatakan bahwa penampilannya dalam Maratua Jazz & Dive Fiesta 2015, Sabtu (12/9/2015), merupakan pengalaman pertamanya manggung di Pulau Maratua, Kepulauan Derawan, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur.
“Tempat ini adalah pengalaman yang baru buat saya. Kalian kasih tempat ke saya, saya akan berikan penampilan saya,” ujar Syaharani, yang naik ke pentas dalam formasi band Syaharani and Queenfireworks (ESQI:EF), sebelum memutus ucapannya itu dengan lagu “Selalu Ada Cinta”.
Syaharani, yang mengenakan kostum serba putih, menghibur para penonton bersama Donny Suhendra (gitar), Andy Gomez (keyboard), Bekti Sudiro (bas), dan Eddy Syakroni (drum). Mereka tampil sebagai band penutup pergelaran tersebut dengan menyajikan enam lagu selama 45 menit.
“Kami ke sini tidak hanya untuk jazz, tapi untuk Maratua,” kata Syaharani. Ia dan grupnya lalu menggelindingkan “Lagu Anak Desaku” dan “Layang-layang Selayang Pandang”.
Selain ESQI:EF, band lokal Kalimantan Timur, yakni YK (Youth of Kalimantan) Samarinda, juga manggung. Mereka memberi jazz sentuhan musik entnik Kalimantan.
Grup yang terdiri dari Yusuf (vokal dan gitar), Iyin (keyboard), King (bas), dan Iqbal (drum) membawakan lima lagu, yaitu “Song for Hudoq”, “Orang Utan”, “3G”, “Paris Barantai”, dan “Sungai Mahakam”.
Maratua Jazz & Dive Festival 2015, yang menghadirkan Idang Rasjidi Syndicate, ESQI:EF, dan YK Samarinda, ditonton oleh sebagian warga Pulau Maratua.
Selain mereka yang berasal dari sekitar tempat pergelaran, ada pula mereka yang datang dari desa Bohe Silian, desa Payung Payung, desa Bohe Bukut atau Teluk Harapan, dan desa Teluk Alulu di pulau itu.
Menuju tempat pergelaran tersebut, mereka, termasuk yang pergi sekeluarga, berjalan berduyun-duyun. Ada yang membawa bekal dalam ransel mereka.
Benny, salah seorang warga Teluk Alulu, mengatakan, ia datang untuk menonton pergelaran jazz tersebut, karena selama ini ia belum pernah mendengarkan jazz.

“Pengin nonton, belum pernah dengar jazz kayak apa,” ucapnya kepada Kompas.com di Pelabuhan Payung Payung.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Di Pulau Maratua, Syaharani dan Warga Sama-sama Dapat Pengalaman Pertama”, https://entertainment.kompas.com/read/2015/09/13/195007110/Di.Pulau.Maratua.Syaharani.dan.Warga.Sama-sama.Dapat.Pengalaman.Pertama.
Penulis : Tri Susanto Setiawan

Categories
Media Coverage News

Syaharani dan Idang Rasjidi Akan Ramaikan “Maratua Jazz & Dive Fiesta”

MARATUA, KOMPAS.com — Sejumlah musisi jazz kenamaan, baik nasional dan lokal, akan unjuk kebolehan dalam rangkaian acara Maratua Jazz & Dive Fiesta, di Pulau Maratua, Kepulauan Derawan, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, yang digelar Jumat (11/9/2015) dan Sabtu (12/9/2015).

“Jazz-nya akan ada dua hari. Sekarang (Jumat) dan besok (Sabtu). Kalau malam ini akan ada gala dinner-nya,” ujar Public Relation Manager PT Berau Coal, Arief Hadianto, saat berbincang dengan Kompas.com di Pulau Maratua.

Grup musik Syaharani and Queenfireworks (ESQI:EF) dengan formasi Syaharani (vokal), Donny Suhendra (gitar), Andy Gomez (keyboard), Eddy Syakroni (drum), dan Bekti Sudiro (bas) akan tampil dalam festival musik jazz tersebut. Selain mereka, masih ada pianis jazz kenamaan Idang Rasjidi bersama grup musiknya dan band lokal asal Kalimantan Timur yang tak kalah seru.

KOMPAS.com / RODERICK ADRIAN MOZES Syaharani (kanan) dan Idang Rasjidi tampil di Maratua Jazz and Dive Fiesta 2015, di Pulau Maratua, Kepulauan Derawan, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, Jumat (11/9/2015).

Pertunjukan akan dimulai pukul 19.00 hingga 22.00 WITA. “Mereka akan membawakan lima sampai enam lagu, yang panggungnya dekat sekitar rumah penduduk,” kata Arief.

Menurut dia, pertunjukan musik jazz dapat mengangkat potensi wisata Pulau Maratua. “Maratua jazz ini sebagai stimulan bersama. Ini yang pertama dan ini etalase negeri kita yang berbatasan langsung dengan Filipina. Kalau bisa sukses, ke depannya ini bisa memberikan potensi budaya lokal dan ekonomi masyarakatnya sendiri,” ujarnya.

“Ada dua terget lagi. Mengenalkan awareness terhadap musik jazz kepada masyarakat lokal. Namun, juga memberikan proses edukasi,” sambungnya.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Syaharani dan Idang Rasjidi Akan Ramaikan “Maratua Jazz & Dive Fiesta””, https://entertainment.kompas.com/read/2015/09/11/181219610/Syaharani.dan.Idang.Rasjidi.Akan.Ramaikan.Maratua.Jazz.Dive.Fiesta..
Penulis : Tri Susanto Setiawan

Categories
Media Coverage News

Bersepeda Keliling Pulau dalam “Gowes Maratua Jazz”

JAKARTA, KOMPAS.com — Selain menjanjikan kenikmatan bagi para penyuka jazz dan diving, Maratua Jazz & Dive Fiesta juga memiliki kegiatan lain yang diharapkan akan menjadi seru bagi para pecinta kegiatan bersepeda.

Kegiatan dalam event yang akan diselenggarakan pada 11 dan 12 September 2015 itu bernama Gowes Maratua Jazz. Para pesertanya akan bersepeda mengelilingi Pulau Maratua di Kepulauan Derawan, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Mereka akan melalui sejumlah desa di Pulau Maratua. Perjalanan tersebut akan bermula di Desa Bohe Silian dan berhenti di Desa Bohe Bukut, tempat Maratua Jazz & Dive Fiesta.

Untuk ambil bagian dalam kegiatan itu, para peserta akan dijemput di tiga tempat, yaitu  Tarakan (Kalimantan Utara), Tanjung Redep, dan Tanjung Batu (Berau, Kalimantan Timur). Dari ketiga tempat tersebut, mereka akan menuju Pulau Maratua, yang merupakan salah satu dari 92 pulau terluar yang berbatasan dengan wilayah Malaysia.

Dari sisi jazz, Maratua Jazz & Dive Fiesta akan menghadirkan sejumlah artis musik jazz terkenal Indonesia. Salah satunya, pianis dan pemain keyboard Idang Rasjidi dengan Idang Rasjidi Syndicate-nya, yang terdiri dari dua putra Idang, yaitu pemain bas Shadu Rasjidi dan drummer Shaku Rasjidi, pemain saksofon Ricad Hutapea, perkusionis Iwan Wiradz, vokalis Tata, dan pemain gendang Andam.

Akan hadir pula Syaharani and Queenfireworks (ESQI:EF), dengan formasi Syaharani (vokal), Donny Suhendra (gitar), Andy Gomez (keyboard), Eddy Syakroni (drum), dan Bekti Sudiro (bas). Band asal Kalimantan Timur YK Samarinda dan Berau Jazz Band juga akan tampil.

Sementara itu, dari sisi diving, Kepulauan Derawan, khususnya Pulau Maratua, dikenal dengan alam bawah lautnya yang kaya. Ada lebih dari 40 dive site di Kepulauan Derawan.

Bupati Berau, Makmur HAPK, berharap event itu bisa membantu promosi Pulau Maratua sebagai wilayah tujuan wisata.

“Harapan saya bisa meningkatkan kunjungan wisatawan yang berdampak pada kesejahteraan masyarakat di Pulau Maratua,” kata Makmur dalam keterangan pers tertulis yang diterima oleh Kompas.com pada Rabu (2/9/2015).”Ini merupakan respons kami terhadap gagasan Nawacita yang disampaikan oleh Presiden Joko Widodo. Sebuah kehormatan bagi kami menyapa dunia dengan Jazz yang akan digelar di Pulau Maratua, surga di utara Indonesia,” terang Agus Setiawan Basuni, founder dan festival director Maratua Jazz & Dive Fiesta, yang juga managing director WartaJazz, dalam keterangan pers tertulis yang sama.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Bersepeda Keliling Pulau dalam “Gowes Maratua Jazz””, https://entertainment.kompas.com/read/2015/09/02/205218610/Bersepeda.Keliling.Pulau.dalam.Gowes.Maratua.Jazz..
Penulis : Tri Susanto Setiawan

Categories
Media Coverage News

Idang Rasjidi: Sebutlah Kepulauan Derawan Etalase Negara

JAKARTA, KOMPAS.com — Ketika tampil di Jakarta International Java Jazz Festival 2015 atau Java Jazz edisi ke-11, pemusik jazz kenamaan Idang Rasjidi (56) mengungkapkan harapannya untuk Kepulauan Derawan, yang berada di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur.

“Nih, lihat baju Berau-Borneo. Ini pulau (Derawan) jauh banget. Tiga jam naik perahu kecil, sedikit lagi Filipina. Ini pulau dibilang pulau terluar negara,” kata Idang sambil memamerkan t-shirt hitam dengan tulisan “Berau-Borneo” yang dikenakannya, ketika ia tampil di panggung Semeru Straight aHead Jazz, Jakarta International Expo (JIExpo), Kemayoran, Jakarta Pusat, pada Sabtu (7/3/2015) malam.

Idang berharap, Kepulauan Derawan tak lagi disebut kepulauan terluar Indonesia. Ia mengusulkan istilah lain.

“Saya bilang mulai sekarang etalase negara,” tekannya.

Dalam kesempatan yang sama, Idang juga menghargai mereka yang menonton aksi panggungnya yang di lantai enam gedung JIExpo.

“Malam ini luar biasa, datang jauh-jauh mau nonton jazz, udah gitu jauh-jauh datang untuk nonton Idang Rasjidi,” kata Idang berseloroh.

“Idang Rasjidi look at your fan,” timpal Asti, vokalis yang melengkapi penampilan Idang dalam Java Jazz Festival 2015.

“Alhamdulillah masih ada yang nonton,” sambung Idang.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Idang Rasjidi: Sebutlah Kepulauan Derawan Etalase Negara”, https://entertainment.kompas.com/read/2015/03/08/115712710/Idang.Rasjidi.Sebutlah.Kepulauan.Derawan.Etalase.Negara.
Penulis : Irfan Maullana

Categories
Media Coverage News

Maratua Jazz & Dive Fiesta Akan Digelar September 2015


KOMPAS.com 
– Untuk pertama kalinya, konser jazz berskala internasional akan digelar di pulau terluar pada September 2015 yakni Maratua Jazz and Dive Fiesta.

Acara ini merupakan upaya untuk mempromosikan destinasi wisata Kabupaten Berau, Kalimantan Timur khususnya Pulau Maratua, Kepulauan Derawan.

Maratua Jazz and Dive Fiesta bertujuan menggabungkan 2 komunitas yaitu komunitas diving dan penikmat jazz.

Pulau Maratua adalah pulau terluar Indonesia yang terletak di Laut Sulawesi dan berbatasan dengan negara Malaysia dan merupakan bagian dari wilayah pemerintah Kabupaten Berau, Provinsi Kalimantan Timur.

Berada di dalam kawasan konservasi Taman Pesisir dan Laut Kepulauan Derawan, Maratua beserta pulau-pulau di sekitarnya, merupakan surga yang menegaskan potensi pariwisata yang dapat terus dikembangkan.

Kepulauan Derawan saat ini telah menjadi salah satu tujuan wisata bahari yang cukup penting di Indonesia sehingga menjadi surga bagi para divers untuk menikmati kekayaan bawah laut seperti ubur–ubur tidak menyengat di Danau Pulau Kakaban, penyu, manta, hiu, barakuda, paus, serta terumbu karang yang beraneka warna.

Kepulauan Derawan khususnya Pulau Maratua merupakan destinasi diving yang cukup di kenal oleh para pencinta bawah laut baik lokal, nasional bahkan Internasional. Lebih dari 40 dive site dapat di nikmati di gugusan Kepulauan Derawan.

Bahkan kawasan bahari ini menjadi salah satu dari 16 destinasi wisata di Indonesia yang menjadi perhatian dan andalan nasional melalui program Destination Management Organisation (DMO) berpotensi untuk dikunjungi wisatawan.

Berada di pusat terumbu karang dunia (coral triangle) menjadikan kekayaan keanekaragaman hayati lautnya menempatkan Kepulauan Derawan menjadi salah satu pusat kekayaan sumber daya laut terbaik di dunia bersama Kepulauan Raja Ampat dan Kepulauan Micronesia.

Road to Maratua Jazz

Mengawali persiapan festival tersebut, telah diadakan Concert dan Gala Dinner di Cantika Swara Resort & Convention Centre, Berau, pada Sabtu (10/1/2015).

Tampil musisi jazz antara lain pianis Idang Rasjidi dengan Idang Rasjidi Syndicate, gitaris Mus Mujiono, serta vokalis Matthew Sayersz. Turut mendukung pula bassis Shadu Rasjidi, drummer Shaku Rasjidi, dan perkusionis handal Iwan Wiradz.

Idang Rasjidi seorang musisi jazz senior di Indonesia dan kiprahnya sudah mengambah juga di mancanegara, banyak bermain di pelbagai festival baik di dalam negeri maupun luar negeri. Banyak grup yang sudah dia bentuk dan selalu menjadi grup yang legendaris, misalnya Trigonia dan saat ini juga Idang Rasjidi Syndicate.

Ia juga dikenal sebagai musisi jazz yang selalu membimbing dan mencari bakat-bakat muda sebagai generasi penerus musik jazz di Indonesia, dikenal sebagai musisi yang berkeliling di seantero Nusantara, memperkenalkan musik jazz sembari membuat workshop.

Tidak hanya itu, Idang juga memperkenalkan Indonesia ke mancanegara melalui musik jazz. Tidak begitu berlebihan jika sosok Idang juga menjadi salah satu icon jazz di Indonesia.

Mus Mujiono tentunya nama yang tidak asing bagi penggemar musik di Indonesia, lagu-lagunya beberapa menjadi hits dan populer. Tidak banyak yang tahu sesungguhnya Mus Mujiono adalah seorang gitaris jazz yang handal. Gitaris yang dikenal juga mempunyai suara emas ini pengalaman bermain jazz sudah puluhan tahun dan bermain dengan banyak para maestro jazz Indonesia.

Tidak salah kalau kedua musisi ini didapuk menjadi “juru bicara” untuk mengenalkan pariwisata di Indonesia khususnya Maratua di Kepulauan Derawan, Berau, Kalimantan Timur melalui musik jazz.

Acara ini di Inisiasi oleh WartaJazz.com dan Yayasan Berau Lestari didukung penuh Pemerintah Kabupaten Bearu dan Kementerian Kelautan dan Perikanan, serta mitra pendukung seperti Yayasan Kehati, GNFI, Sahabat Penyu, dan diorganisir oleh Jalamaya Production. Informasi lebih lanjut akan diperbarui di www.maratuajazz.com.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Maratua Jazz & Dive Fiesta Akan Digelar September 2015”, https://entertainment.kompas.com/read/2015/01/11/150955310/Maratua.Jazz.Dive.Fiesta.Akan.Digelar.September.2015.