Categories
News

Surga Dunia! Ini konser Jazz yang hanya ada di Indonesia

Indonesia memang tak pernah sepi dari yang namanya acara musik berkualitas. Selalu saja ada suguhan istimewa untuk para pecinta musik tanah air. Beberapa contohnya adalah deretan konser-konser jazz ini.

Deretan konser ini adalah salah satu wujud acara musik jazz unik yang hanya bisa ditemukan di Indonesia. Tak hanya sajian musiknya saja yang menjadi daya tarik, keindahan alam tanah air juga di-eksplore di acara super keren ini.

So, konser jazz apa saja sih yang hanya bisa kamu temukan di Indonesia?

Maratua Jazz yang digelar di Berau dianggap sebagai acara musik paling istimewa yang digelar di surganya Indonesia sebelah timur. Konser ini memadukan alunan nada manis dengan keindahan flora dan fauna di Pulau Maratua.

Tayang di https://musik.kapanlagi.com/galeri/berita-foto/indonesia/40282jazz_festival-20150926-006-rita.html

Categories
Media Coverage News

Cerita KEHATI di Maratua

Maratua menorehkan sejarah pertama jazz bergema di pulau terluar Indonesia ini. Pulau yang namanya makin moncer akan keindahan alam bawah lautnya, kini menambah tenarnya dengan festival musik jazz. “Maratua Jazz adalah pentas Jazz di pulau terdepan pertama di Indonesia dan kegiatan jazz & dive pertama di dunia”, ujar Ketua Panitia Pelaksana Maratua Jazz & Dive Fiesta, Agus Basuni ketika membuka acara, Sabtu 11 September 2015.

Tidak tanggung-tanggung, panitia menghadirkan musisi jazz papan atas Indonesia, seperti Idang Rasyidi, Syaharani, Donny Suhendra, Indro Hardjodikoro, dan beberapa musisi lokal. Penonton dari beragam etnis berkumpul ikut memeriahkan perhelatan akbar berskala internasional itu.

Musik Jazz memang bukan musik yang termasuk dalam daftar musik di arus utama. Pecinta musik jazz cenderung segmented. Di kota-kota besar saja, musik jazz hanya digemari sebagian kalangan masyarkat saja, apalagi di kampong kecil, di pulau terluar Indonesia. Masyarakat Maratua yang kebanyakan adalah nelayan dan pemandu wisata selam di daerah yang katanya memiliki keindahan terumbu karang dan keragaman jenis ikan-ikannya itu menganggap jazz adalah genre musik yang baru dan asing. Saat acara akan dimulai, banyak yang menanyakan tentang apa itu jazz.

Kondisi tersebut disadari oleh Syaharani.  Di atas panggung, beberapa kali dia menyampaikan bahwa lagu-lagu yang dia nyanyikan adalah lagu baru buat masyarakat Maratua. Padahal bagi mereka yang paham musik jazz,  lagu-lagu yang dendangkannya masuk dalam kategori lagu-lagu lawas.

Meskipun demikian, ditengah keasingan masyarakat Maratua terhadap Jazz, Idang Rasyidi menyampaikan bahwa musik jazz adalah soal mendengar. “Kita diciptakan Allah dengan dua telinga dan satu mulut, artinya porsi mendengar harus lebih banyak ketimbang berbicara,” ujarnya. Pesan tersebut seolah ingin mensugesti penonton supaya mendengarkan dan menikmati saja sajian musik yang mereka tampilkan, tanpa harus mempertanyakannya. Idang dan rekan-rekan terus berupaya melibatkan para penonton dengan menyanyikan lagu-lagu nasional, seperti Indonesia Tanah Air Beta, Desaku yang ku cinta dan  yel-yel dengan nada-nada tertentu.

Pentas jazz yang dilaksanakan di pinggir pantai Maratua, dengan suasana khas ala kampung (penonton ada yang berdiri, duduk beralaskan tikar dan beberapa pedagang kecil) ini, sangat menghibur warga kampung sana. Pulau yang terdiri dari kampung Bohe Silian, Payung-Payung dan Bohe Kukut itu, membuat warganya berbondong-bondong menyaksikan pertunjukan jazz ini. Tidak mengenal usia, mulai dari anak-anak, ibu-ibu, bapak-bapak dan bahkan nenek-nenek dan kakek-kakek. Karena tidak pernah ada pentas musik seperti ini sebelumnya.

Walaupun mereka sebelumnya tidak kenal musik jazz, tetapi ternyata mereka cukup menikmati juga. Beberapa penonton, termasuk ibu-ibu terlihat manggut-manggut mengikuti irama musik. Dakwah musik jazz Idang cs dengan sesekali menyisipkan pesan-pesan pelestarian lingkungan, nampaknya cukup berhasil mengambil hati warga kampung Maratua. Mereka menantikan jazz masuk kampung berikutnya. ahs

Artikel ini tayang di http://kehati.or.id/waktu-jazz-bergema-di-maratua-197/

Categories
News

Musisi Jazz Bicara Maratua: Peduli Lingkungan, Dorong Kesenian Khas

Pergelaran musik Maratua Jazz and Dive Fiesta (MJDF) tak melulu bicara musik asal Amerika Serikat tersebut. Di sela-sela MJDF, artis pengisi menikmati keindahan alam pulau di beranda Indonesia tersebut.

NAMUN, menurut mereka, kesadaran masyarakat menjaga lingkungan masih kurang. Tata, vokalis Idang Rasjidi Syndicate mengatakan, keindahan pulau harus ditambah hasrat menjaga alam. Ia melihat sendiri sampah mengapung di sekitar pulau saat melakukan snorkeling. “Mulai botol hingga popok bayi mengapung di laut,” ujarnya.

Ironisnya, saat sampah-sampah itu mengapung, terlihat beberapa penyu hijau berseliweran. “Sayang sekali jika sampai termakan penyu,” terangnya. Makanya, saat tampil bersama Idang Rasjidi Syndicate, perempuan bertubuh mungil itu selalu menyuarakan agar tidak membuang sampah di laut. Kalau tak segera sadar, umur objek wisata di Maratua tak bakal panjang. “Sayang sekali kalau sampai begitu,” ujarnya.

Untuk mengatasi hal tersebut, lanjut Tata, pemerintah harus memberi sosialisasi mengenai lingkungan terhadap para warga setempat.  “Mungkin bisa melakukan workshop lingkungan,” ucapnya.

Buat Kesenian Asli Maratua

Diwartakan sebelumnya, Idang Rasjidi sebelum tampil di MJDF pada 11–12 September lalu sudah datang ke Maratua pada Januari lalu. Dalam kunjungannya pada awal tahun tersebut Idang sempat mengumpulkan beberapa pemuka tiga desa di Maratua. Ia mengatakan, harus ada daya tarik sendiri dari Maratua selain keindahan alam.

“Saya mencontohkan pada saat itu buat tarian baru,” ujarnya. Idang mengatakan, ini kebutuhan jangka panjang. Sekarang memang hanya fase pengenalan tapi setelah 20 tahun, tarian baru tersebut jadi tarian asli. Selain itu, Maratua belum punya oleh-oleh khas. Nah, hal itu bisa dimulai dengan mengundang pembatik dari luar pulau untuk kemudian mengajari warga setempat. “Dalam jangka panjang kan akan muncul motif khas Maratua, alhasil pulau ini punya motif kain khas,” terangnya. (*/fch/bby/k9)

Tayang di http://kaltim.prokal.co/read/news/243888-peduli-lingkungan-dorong-kesenian-khas

Categories
News

Menarik Wisatawan dengan Jazz

Para pecinta musik dan wisatawan bahari bertemu di Maratua. Kepulauan Derawan menyuguhkan surga bahari bagi para wisatawan selam.

Nama Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, melambung ke kancah dunia, terutama di kalangan penyuka musik jazz dan para pelancong. Berau telah sukses menyelenggarakan perhelatan Maratua Jazz & Dive Fiesta yang berlangsung pada 11-12 September 2015. Sesuai namanya, even digelar di Pulau Maratua, Kepulauan Derawan, Berau.

Maratua Jazz & Dive Fiesta diselenggarakan dalam rangka untuk mempromosikan Kabupaten Berau, khususnya Pulau Maratua di Kepulauan Derawan, sebagai objek wisata bahari. Karena itu, festival musik jazz itu telah dipadukan secara meriah dengan kegiatan wisata diving.

Agus Setiawan Basuni, founder dan Festival Director Maratua Jazz & Dive Fiesta, mengatakan bahwa Jazz & Dive Fiesta merupakan kegiatan yang sejalan dengan konsep Nawa Cita Presiden Joko Widodo. “Sebuah kehormatan bagi kami menyapa dunia dengan Jazz dari Pulau Maratua, surga di utara Indonesia,” kata Managing Director WartaJazz, si penggagas even.

Pada even Maratua Jazz & Dive Fiesta itu telah hadir sejumlah artis musik jazz terkenal Indonesia. Antara lain, pianis dan pemain keyboard Idang Rasjidi dengan Idang Rasjidi Syndicate-nya. Hadir pula, penyanyi Syaharani and Queenfireworks (ESQI:EF). Tampil pula grup band lokal dari Kalimantan Timur, YK Samarinda dan Berau Jazz Band dari Berau.

Didukung Banyak Pihak
Even Maratua Jazz & Dive Fiesta didukung oleh Pemerintah Kabupaten Berau, Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Kementerian Pariwisata, serta mitra lainnya, antara lain, Yayasan Kehati, Berau Coal, Forum Komunikasi Maritim Berau, NDT, Yayasan Penyu Berau, dan Terangi. Dr. Sudirman Saad, M. Hum, Direktur Jenderal KP3K, KKP mengatakan bahwa Maratua Jazz & Dive Fiesta sejalan dengan program dan kebijakan KKP dalam pendayagunaan pulau-pulau kecil terluar melalui pengembangan kegiatan yang cukup inovatif. “Bagi masyarakat, akan mendapatkan banyak manfaat peningkatan ekonomi dengan adanya wisatawan yang datang. Dan yang paling penting, negara hadir dalam mengembangkan pulau-pulau terluar Indonesia melalui berbagai program dan kegiatan,” ujar Sudirman.

Bupati Berau Drs. H. Makmur HAPK, MM, mengatakan bahwa Pemerintah Kabupaten Berau sangat mendukung kegiatan ini untuk mempromosikan Maratua sebagai destinasi bahari. “Kami telah menyiapkan infrastruktur pariwisata seperti bandara di Maratua yang akan dioperasionalkan pada tahun ini juga. Saya berharap akan meningkatkan kunjungan wistawan yang berdampak pada kesejahteraan masyarakat di pulau Maratua,” katanya.

Kepulauan Derawan, khususnya Pulau Maratua, telah dikenal luas di kalangan para pelancong dunia, terutama para pencinta bawah laut. Lebih dari 40 lokasi wisata diving terdapat di sepanjang gugusan Kepulauan Derawan. Acara Maratua Jazz and Dive Fiesta sendiri merupakan even yang digelar untuk menggabungkan 2 komunitas, yaitu komunitas wisatawan diving dan penikmat jazz dalam satu acara.

Direktur Pelaksana Bestari Berau, Juhriansyah, yang juga salah satu penggagas Maratua Jazz and Dive Fiesta, menagatakan bahwa Maratua Jazz & Dive Fiesta merupakan wujud partisipasi Bestari Berau dalam mendukung pariwisata Berau. “Kami sebagai penggerak masyarakat dan lingkungan hidup ingin lebih memperkenalkan Pulau Maratua sebagai destinasi wisata diving yang mempunyai kekayaan keanekaragaman hayati yang cukup penting di wilayah coral triangle. Kami juga ingin memberdayakan masyarakat di pulau kecil terluar, di beranda Indonesia,” paparnya.

Surga untuk Diving
Kepulauan Derawan, khususnya Pulau Maratua, dikenal dengan keindahan alam bawah lautnya yang kaya biota. Ada lebih dari 40 lokasi diving di Kepulauan Derawan yang digemari wisatawan selam. Kepulauan Derawan terletak di sebelah timur Pulau Kalimantan, di wilayah Kabupaten Berau, dan merupakan kepulauan paling timur Pulau Kalimantan.

Gugusan Kepulauan Derawan memiliki enam pulau, yakni: Pulau Derawan, Pulau Kakaban, Pulau Meratus, Pulau Sangalaki, Pulau Panjang, dan Pulau Semama. Kepulauan Derawan merupakan bagian dari ekoregion Laut Sulu-Sulawesi yang melintasi Indonesia, Malaysia dan Filipina, yang kini dijadikan Taman Laut Derawan. Kawasan ini terletak di pusat Kawasan Segitiga Karang Dunia yang memiliki tingkat keanekaragaman hayati tertinggi di dunia, dan tercatat memiliki 53% dari total terumbu karang dunia.

Kepulauan Derawan memiliki panorama laut yang indah dengan pasir pantai yang putih. Daya tarik lainnya adalah pohon-pohon kelapa yang berderet indah di tepi pantai, dan keramahan penduduknya. Perairan sekitar Pulau Derawan menyimpan banyak keanekaragaman jenis ikan dan biota laut. Bahkan kawasan ini menjadi habitat penting penyu hijau. Penyu-penyu di sini sangat jinak dan tidak takut oleh manusia.

Pulau Maratua adalah salah satu pulau di Kepulauan Derawan. Maratua merupakan pulau terdepan Indonesia yang terletak di Laut Sulawesi, dan berbatasan langsung dengan negara Malaysia. Berada dalam kawasan konservasi Taman Pesisir dan Laut Kepulauan Derawan, Pulau Maratua beserta pulau-pulau di sekitarnya, merupakan potensi pariwisata Berau yang sungguh besar. Kepulauan Derawan saat ini bahkan telah menjadi salah satu tujuan wisata bahari yang sangat penting bagi Indonesia. Di sini terdapat berbagai biota laut yang memperindah surga bawah lautnya, seperti penyu, pari manta, barakuda, paus, dan lain-lain. Ada juga Danau Pulau Kakaban yang dihuni ubur-ubur cantik yang tidak menyengat.

Derawan telah menjadi salah satu dari 16 destinasi wisata di Indonesia yang menjadi perhatian dan andalan nasional melalui program Destination Management Organisation (DMO) berpotensi untuk dikunjungi wisatawan. Berada di pusat terumbu karang dunia (coral triangle) menjadikan perairan Derawan sebagai salah satu pusat kekayaan sumber daya laut terbaik di dunia, bersama Kepulauan Raja Ampat dan Kepulauan Micronesia.

Ada 31 Pulau
Pulau Maratua sendiri adalah salah satu dari empat pulau paling terkenal di Kepulauan Derawan. Jumlah total pulau di kepualauan ini ada 31 pulau. Tiga pulau lainnya adalah Pulau Sangalaki, Pulau Kakaban, dan Pulau Derawan sendiri. Maratua berbatasan langsung dengan negara Malaysia dan Filipina. Secara administrasif, Pulau Maratua masuk wilayah Kecamatan Maratua, Kabupaten Berau, yang baru dibentuk pada 2003.

Pulau Maratua juga merupakan surga bagi penyuka lingkungan, karena garis pantai pulau itu menjadi lokasi penyu hijau bertelur. Perairan pulau ini juga memiliki beragam jenis terumbu karang penuh warna, yang dihuni beragam jenis ikan, dan biota lainnya. Di Pulau Maratua terdapat 21 lokasi wisata diving yang disukai wisatawan. Kalau sedang beruntung, para wisatawan bisa menyaksikan lumba- lumba yang sering muncul berenang mengiringi kapal dalam perjalanan menuju dan dari Pulau Maratua.

Pulau Maratua juga memiliki potensi wisata lain di daratannya, yakni gua-gua sarang burung walet, dan panorama hutan-hutannya yang ditumbuhi oleh berbagai pohon yang tumbuh di atas batu karang. Para wisatawan bisa berjalan menyusuri jejalanan setapak yang kemudian mendaki gunung putih untuk menyaksikan sunrise dan melihat Teluk Maratua dari ketinggian.

Kini setelah perhelatan Maratua Jazz & Dive Fiesta usai, para wisatawan dunia diharapkan akan makin mengenal Maratua sebagai objek wisata paling mengasyikan di Kepualauan Derawan. Kunjungan mereka akan senantiasa disambut hangat penduduk dan Pemerintah Kabupaten Berau, sehingga kunjungan ke Maratua diharapkan memberi pengalaman wisata yang mengesankan.

Categories
Media Coverage News

Pergelaran Jazz Pertama di Etalase Indonesia, 18 Jam demi Maratua

PROKAL.CO, v>

MARATUA Jazz and Dive Fiesta (MJDF) sukses digelar pada 11–12 September lalu. Pergelaran musik jazz pertama di etalase Indonesia tersebut menyedot tiga ribu penonton dari berbagai kota, bahkan luar negeri.

Di balik suksesnya pergelaran musik tersebut, ada cerita menarik dari artis pengisi acara. Mereka mesti rela menempuh jalan darat Balikpapan-Berau untuk ke Maratua. Sebenarnya, mereka direncanakan terbang dari Balikpapan menuju Berau. Namun, apa daya. Kabut asap akibat kebakaran hutan membuat Bandara Kalimarau, Berau ditutup. Dua artis yang mesti menempuh jalan darat adalah Idang Rasjidi dan penyanyi jazz Syaharani.

Idang mengatakan, seharusnya mereka sampai di Maratua pada Rabu (9/9) sore pekan lalu. “Namun, karena kabut kami baru sampai tanggal 11,” ujarnya saat berbincang dengan Kaltim Post, beberapa jam setelah sampai di Pulau Maratua. Pianis jazz gaek tersebut mengatakan, perjalanan darat selama 18 jam itu membuatnya menemukan jawaban tanpa harus bertanya. Ia jadi tahu penyebab kabut asap. Ia melihat sendiri kebakaran hutan selama perjalanan. Idang dan Syaharani bersama kru mereka menumpang enam minibus dari Balikpapan.

Sampai di Pulau Maratua, Idang dan Syaharani sepakat perjalanan darat 18 jam ditambah empat jam jalur air, terbayar dengan keindahan alam Maratua. Selepas check sound di Kampung Bohe Bukut, Maratua yang menjadi lokasi acara, Syaharani langsung mengelilingi Pulau Maratua. “Maklum, kejar waktu. Seharusnya kami datang dua hari sebelum acara karena force majeure seperti ini harus memanfaatkan waktu sebaik mungkin,” terangnya. Selain keliling pulau, Syaharani menyempatkan snorkeling.

SAMA-SAMA PENGALAMAN PERTAMA

Syaharani mengatakan, penampilannya di MJDF Sabtu (12/9) lalu adalah pengalaman pertamanya di Maratua. “Tempat ini adalah pengalaman baru buat saya. Kalian kasih tempat ke saya, saya akan berikan penampilan saya,” ujar Syaharani, yang naik pentas dalam formasi band Syaharani and Queenfireworks (ESQI:EF), sebelum memutus ucapannya itu dengan lagu Selalu Ada Cinta.

Syaharani yang mengenakan kostum serbaputih, menghibur para penonton bersama Donny Suhendra (gitar), Andy Gomez (keyboard), Bekti Sudiro (bas), dan Eddy Syakroni (drum). ESQI:EF berhasil membuat penonton lokal dan dari luar Maratua bergoyang. Warga lokal yang notabene belum pernah mendengar musik jazz awalnya malu-malu bergoyang. “Tapi, lama-lama mendengar asyik juga untuk bergoyang,” ucap Delly, warga Desa Bohe Bukut. Delly mengatakan, pengalaman pertama warga lokal disuguhi musik jazz bisa membuka mata warga.

Selain ESQI:EF, warga terhipnotis permainan jazz dengan sentuhan etnik band asal Samarinda, YK Samarinda. Grup yang terdiri dari Yusuf (vokal dan gitar), Iyin (keyboard), King (bas), dan Iqbal (drum) membawakan lima lagu, yaitu Song for Hudoq, Orang Utan, 3G, Paris Barantai, dan Sungai Mahakam. Yusuf senang permainan mereka bisa dinikmati warga Maratua. “Mungkin musik kami cukup familier di telinga mereka,” ujarnya. Yusuf berharap MJDF kembali digelar tahun depan. (*/fch/bby/k9)

Artikel ini tayang di http://kaltim.prokal.co/read/news/243804-pergelaran-jazz-pertama-di-etalase-indonesia-18-jam-demi-maratua

Categories
News

Harus bangga jadi orang Maratua

KEHADIRAN Idang Rasjidi dalam gelaran Maratua Dive & Jazz Fiesta 2015, tak sekadar menyuguhkan keahliannya dalam memainkan musik jazz. Pria kelahiran Pangkal Pinang, Kepulaun Bangka Belitung ini memberi banyak ide dan menumbuhkan rasa peduli masyarakat Maratua terhadap salah satu pulau terluar Indonesia itu.

Sejak menginjakkan kaki di Pulau Maratua beberapa bulan lalu, Pianis Jazz ini langsung terkagum. Malah, Pulau Maratua menjadi salah satu inspirasinya menciptakan instrumen musik untuk Maratua. “Saya sangat bersyukur sekali bisa ada di sini, di pulau yang sangat indah dan cantik luar biasa ini. Makanya saya membuat sebuah instrumen yang berjudul Maratua. Itu adalah bentuk ekspresi dan bangga menjadi bagian dari Pulau Maratua,” ungkap musisi 57 tahun ini.
Idang yang berada di Maratua untuk mengisi Maratua Dive & Jazz Fiesta 2015 sejak Jumat (11/9), banyak berinteraksi dengan masyarakat setempat. Ia berharap masyarakat Maratua punya rasa bangga dan menjaga pulau yang punya potensi wisata bahari ini bersama-sama. “Kita harusnya bersyukur kepada Allah SWT karena telah diberi tempat seperti ini, masyarakat yang ada di Maratua harusnya bangga menjadi masyarakat Maratua,” imbuhnya.

Mengenai kebersihan dan fasilitas di pulau wisata ini, Idang berharap masyarakat bekerja sama dengan seluruh stakeholder menyiapkan tempat sampah tiap satu kilometer. Hal itu untuk meminimalisasi ulah masyarakat atau wisatawan yang membuang sampah sembarangan. “Sayang pulau yang indah dan pantai yang biru ini jika dipenuhi sampah,” pungkasnya. (txe/udi)

Tayang di http://berau.prokal.co/read/news/38170-harus-bangga-jadi-orang-maratua

Categories
Media Coverage News

Syaharani-Idang Rasjidi ‘Sihir’ Maratua

PROKAL.CO,
MARATUA – Maratua Jazz and Dive Fiesta 2015 berlangsung meriah. Bintang jazz kenamaan Indonesia turut meramaikan ajang yang baru kali pertama ini digelar.
Agenda yang masuk dalam rangkaian hari jadi Kabupaten Berau dan HUT Kota Tanjung Redeb itu digelar di Pulau Maratua, 11-12 September. Bintang utama pada event kali ini adalah Syaharani dan Idang Rasjidi.
Makmur HAPK, Bupati Berau yang membuka agenda ini, Jumat (11/9) malam mengungkapkan rasa syukurnya atas terselenggaranya kegiatan ini. Baginya, mengenalkan potensi wisata di Maratua bisa dengan berbagai kegiatan. Salah satunya lewat musik jazz.
“Saya berharap ajang seperti ini bisa meningkatkan ketenaran Pulau Maratua. Apalagi pulau ini adalah beranda Indonesia. Sudah sewajarnya kita melakukan kegiatan yang lebih kreatif untuk bisa menarik minat wisatawan,” ujarnya.
Makmur yang pada 15 September nanti akan meletakkan jabatannya sebagai kepala daerah, menginginkan kegiatan ini bisa digelar di masa yang akan datang. “Siapapun yang nantinya meneruskan tugas sebagai kepala daerah, saya harap bisa menggelar kegiatan positif yang mendukung promosi daerah,” ungkapnya.
Seusai pembukaan, Syaharani yang menyanyikan Indonesia Pusaka ciptaan Ismail Marzuki, berhasil memukau penonton. Ajakannya untuk besama-sama menyanyikan lagu tersebut, disambut dengan koor dari penonton.
Hal serupa juga ditunjukkan Idang Rasjidi. Saat di atas panggung, musisi senior tersebut bahkan mengajak penonton untuk beradu kemampuan menirukan nada yang keluar dari mulutnya. Kepada Berau Post, Idang mengungkapkan jika dirinya sudah mempersiapkan lagu khusus bagi warga Maratua.
“Itu sebagai ungkapan rasa terima kasih saya kepada warga Maratua yang telah bertahun-tahun menjaga keindahan alam. Saya berharap potensi yang dimiliki Maratua bisa memberikan banyak manfaat kepada masyarakat,” ujarnya.
“Semoga mereka tetap bisa menjaga kelestarian alam. Dan lewat musik, saya dan juga teman-teman akan berusaha memperkenalkan Maratua ke kancah yang lebih luas,” tuturnya. (rjp/udi)

Artikel ini tayang di http://berau.prokal.co/read/news/38132-syaharani-idang-rasjidi-sihir-maratua

Categories
Media Coverage News

Di Pulau Maratua, Syaharani dan Warga Sama-sama Dapat Pengalaman Pertama

MARATUA, KOMPAS.com — Vokalis jazz Syaharani mengatakan bahwa penampilannya dalam Maratua Jazz & Dive Fiesta 2015, Sabtu (12/9/2015), merupakan pengalaman pertamanya manggung di Pulau Maratua, Kepulauan Derawan, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur.
“Tempat ini adalah pengalaman yang baru buat saya. Kalian kasih tempat ke saya, saya akan berikan penampilan saya,” ujar Syaharani, yang naik ke pentas dalam formasi band Syaharani and Queenfireworks (ESQI:EF), sebelum memutus ucapannya itu dengan lagu “Selalu Ada Cinta”.
Syaharani, yang mengenakan kostum serba putih, menghibur para penonton bersama Donny Suhendra (gitar), Andy Gomez (keyboard), Bekti Sudiro (bas), dan Eddy Syakroni (drum). Mereka tampil sebagai band penutup pergelaran tersebut dengan menyajikan enam lagu selama 45 menit.
“Kami ke sini tidak hanya untuk jazz, tapi untuk Maratua,” kata Syaharani. Ia dan grupnya lalu menggelindingkan “Lagu Anak Desaku” dan “Layang-layang Selayang Pandang”.
Selain ESQI:EF, band lokal Kalimantan Timur, yakni YK (Youth of Kalimantan) Samarinda, juga manggung. Mereka memberi jazz sentuhan musik entnik Kalimantan.
Grup yang terdiri dari Yusuf (vokal dan gitar), Iyin (keyboard), King (bas), dan Iqbal (drum) membawakan lima lagu, yaitu “Song for Hudoq”, “Orang Utan”, “3G”, “Paris Barantai”, dan “Sungai Mahakam”.
Maratua Jazz & Dive Festival 2015, yang menghadirkan Idang Rasjidi Syndicate, ESQI:EF, dan YK Samarinda, ditonton oleh sebagian warga Pulau Maratua.
Selain mereka yang berasal dari sekitar tempat pergelaran, ada pula mereka yang datang dari desa Bohe Silian, desa Payung Payung, desa Bohe Bukut atau Teluk Harapan, dan desa Teluk Alulu di pulau itu.
Menuju tempat pergelaran tersebut, mereka, termasuk yang pergi sekeluarga, berjalan berduyun-duyun. Ada yang membawa bekal dalam ransel mereka.
Benny, salah seorang warga Teluk Alulu, mengatakan, ia datang untuk menonton pergelaran jazz tersebut, karena selama ini ia belum pernah mendengarkan jazz.

“Pengin nonton, belum pernah dengar jazz kayak apa,” ucapnya kepada Kompas.com di Pelabuhan Payung Payung.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul “Di Pulau Maratua, Syaharani dan Warga Sama-sama Dapat Pengalaman Pertama”, https://entertainment.kompas.com/read/2015/09/13/195007110/Di.Pulau.Maratua.Syaharani.dan.Warga.Sama-sama.Dapat.Pengalaman.Pertama.
Penulis : Tri Susanto Setiawan

Categories
News

Kabut Asap, Rombongan Maratua Jazz Ambil Jalan Memutar

BANJARMASINPOST.CO.ID, PONTIANAK – Rombongan Maratua Jazz Festival terpaksa harus mengambil jalan memutar karena terhalang kabut asap tebal untuk mencapai Pulau Maratua yang merupakan pulau terluar Indonesia di wilayah Kalimantan Timur bagian utara itu.

Rombongan yang terhalang kabut asap tebal di Bandara Kalimarau di Berau itu terdiri dari musisi dan penonton, termasuk dari Kementerian Perikanan dan Kelautan, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, serta para jurnalis para peliput.

“Kami terpaksa ganti penerbangan ke Tarakan karena semua airline yang punya jadwal ke Berau menunda penerbangan,” kata Indro Hardjodikoro, pemain bass terkemuka Indonesia di Balikpapan, Jumat.

Penerbangan ke Berau antara lain dilayani oleh Wings Air, Lion Air, Sriwijaya Air, dan Garuda Indonesia. Dengan jarak pandang 300 meter pada pukul 11.00 Kamis (10/9), semua pilot memutuskan untuk menunda penerbangan.

Jarak pandang yang aman untuk pesawat komersial itu 2.500-4.000 meter, kata Mart Soplepmann, co pilot Garuda Indonesia.

Indro, termasuk juga gitaris YK, band jazz asal Samarinda Yusuf Koen, dijadwalkan tampil festival yang berlangsung mulai Jumat malam hingga Minggu 13/9 mendatang di Maratua, pulau terbesar di gugus Kepulauan Derawan, satu tujuan wisata utama Indonesia. Dari Tarakan mereka segera melanjutkan perjalanan dengan speedboat ke Maratua.

Umumnya untuk ke Maratua saat ini orang akan mendarat di Tanjung Redeb, Berau, setelah terbang dari Balikpapan. Perjalanan dilanjutkan dengan naik speedboat ke timur ke Maratua melewati Pulau Derawan dan Pulau Kakaban atau juga Pulau Sangalaki. Dengan speedboat bermesin 200 pk, Maratua bisa dicapai dalam 4 jam.

Namun bila di Tarakan, Kalimantan Utara sudah sore hari maka tidak ada lagi speedboat ke Maratua.

“Jadi kami harus menginap semalam dulu Tarakan, sehingga 12 jam lebih lambat daripada jadwal,” ucap Yusuf.

Maratua Jazz Festival digagas antara lain oleh WartaJazz dan Yayasan Berau Lestari dengan dukungan Yayasan KEHATI, dan bekerja sama dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan dan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

Artikel ini telah tayang di banjarmasinpost.co.id dengan judul Kabut Asap, Rombongan Maratua Jazz Ambil Jalan Memutar, http://banjarmasin.tribunnews.com/2015/09/11/dihadang-kabut-asap-rombongan-maratua-jazz-ambil-jalan-memutar.

Editor: Didik Trio

Categories
News

Rombongan Maratua Jazz Festival terhalang kabut asap di Kaltim

Balikpapan (ANTARA News) – Rombongan Maratua Jazz Festival terpaksa harus mengambil jalan memutar karena terhalang kabut asap tebal untuk mencapai Pulau Maratua yang merupakan pulau terluar Indonesia di wilayah Kalimantan Timur bagian utara itu.

Rombongan yang terhalang kabut asap tebal di Bandara Kalimarau di Berau itu terdiri dari musisi dan penonton, termasuk dari Kementerian Perikanan dan Kelautan, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, serta para jurnalis para peliput.

“Kami terpaksa ganti penerbangan ke Tarakan karena semua airline yang punya jadwal ke Berau menunda penerbangan,” kata Indro Hardjodikoro, pemain bass terkemuka Indonesia di Balikpapan, Jumat.

Penerbangan ke Berau antara lain dilayani oleh Wings Air, Lion Air, Sriwijaya Air, dan Garuda Indonesia. Dengan jarak pandang 300 meter pada pukul 11.00 Kamis (10/9), semua pilot memutuskan untuk menunda penerbangan.

Jarak pandang yang aman untuk pesawat komersial itu 2.500-4.000 meter, kata Mart Soplepmann, co pilot Garuda Indonesia.

Indro, termasuk juga gitaris YK, band jazz asal Samarinda Yusuf Koen, dijadwalkan tampil festival yang berlangsung mulai Jumat malam hingga Minggu 13/9 mendatang di Maratua, pulau terbesar di gugus Kepulauan Derawan, satu tujuan wisata utama Indonesia. Dari Tarakan mereka segera melanjutkan perjalanan dengan speedboat ke Maratua.

Umumnya untuk ke Maratua saat ini orang akan mendarat di Tanjung Redeb, Berau, setelah terbang dari Balikpapan. Perjalanan dilanjutkan dengan naik speedboat ke timur ke Maratua melewati Pulau Derawan dan Pulau Kakaban atau juga Pulau Sangalaki. Dengan speedboat bermesin 200 pk, Maratua bisa dicapai dalam 4 jam.

Namun bila di Tarakan, Kalimantan Utara sudah sore hari maka tidak ada lagi speedboat ke Maratua.

“Jadi kami harus menginap semalam dulu Tarakan, sehingga 12 jam lebih lambat daripada jadwal,” ucap Yusuf.

Maratua Jazz Festival digagas antara lain oleh Idang Rasyidi, musisi jazz bekerja sama dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan dan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

“Idenya sudah sejak setahun lalu. Kami ingin membuat jazz juga menjadi daya tarik wisata Indonesia di tempat-tempat indah Indonesia,” kata Idang.

Pewarta: Novi Abdi

Tayang di https://www.antaranews.com/berita/517442/rombongan-maratua-jazz-festival-terhalang-kabut-asap-di-kaltim